Strategi Kulit Durian Ala Jokowi; Upaya Pembodohan Publik?

loading...

Kita sama-sama maklum isi lebih penting dari kulit. Kalau berkunjung ke pasar durian, kita pasti akan disuguhi tawaran khas di sana: buka kulit tampak isi. Dengan cara ini, si penjual ingin menekankan jangan tertipu oleh tampilan kulit yang menggugah selera.

Untuk membuktikan kata-katanya, durian itu pun dikubak. Tentu saja tidak benar-benar dikubak. Sedikit saja, sehingga bisa dicocol barang sejari. Celakanya, kerap kali cocolan itu tidak bisa merepresentasikan kondisi seutuhnya. Kerapkali cocolan itu paten benar rasanya, tetapi begitu dikubak di rumah ternyata sebagian besar durian itu malah hambar, masam bahkan busuk.

Pembeli tertipu, tapi apakah penjual mau bertanggungjawab? Tentu saja ada yang mau. Tapi, masalahnya apa kita mau protes keras lalu mendatangi kembali penjual untuk minta ganti? Tidak! Ada peribahasa tambahan hukum dagang: barang yang sudah dibeli, tidak bisa dikembalikan.

Ilustrasi ini agaknya tepat untuk menggambarkan kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kala. Setiap hari, kita disuguhi informasi kulit durian—informasi yang menggugah selera, tapi tak penting-penting amat. Ambil contoh perkara sandal jepit dan kaus ungu saat meresmikan kereta bandara Soekarno-Hatta. Lalu Presiden yang mendadak hobi mengunjungi sentra kuliner kelas bawah—kopi Rp 9.000? Sebelumnya ada kuis yang aneh-aneh—sebutkan 5 nama ikan berhadiah sepeda misalnya.
Baca juga  SBY dan Kekuatan Soft Power

Pertanyaannya, apa pentingnya informasi-informasi ini bagi rakyat? Apa dengan kuis lima nama berhadiah sepeda daya beli masyarakat akan meningkat, perekonomian akan meroket? Tidak sama-sekali. Informasi-informasi kulit durian ini tak lebih dari strategi mengalihkan opini publik—sebagaimana para penjual durian membius pembelinya dengan tampilan kulit yang ciamik serta kata-kata yang memikat.

Masalahnya rakyat tidak bisa makan kulit durian. Rakyat tidak kenyang oleh kata-kata!

Benar, isi kinerja pemerintah memang dikubak, tapi ya seperti cocolan durian itu saja. Cuma yang bagus-bagus aja yang dikubak. Ambil contoh peresmian proyek infrastruktur ini-itu yang jadi senjata utama Jokowi.

Apa sudah ada kajian manfaat pasca peresmian proyek infrastruktur itu bagi kesejahteraan masyarakat? Sudahkah pemerintah secara resmi merilis berapa proyek stratgis yang tersendat, bahkan mangkrak? Sudah adakah prediksi proyek-proyek mercusuar yang mustahil tercapai hingga 2019? Dan yang terpenting perkara duitnya—sudah sejauh mana dampak dan prediksi utang luar negeri itu akan membebani Indonesia di hari kelak?

Bukankah hal-hal subtansi seperti ini tidak pernah disiarkan oleh pemerintah?


Celakanya, lama-lama saya perhatikan pencitraan ini makin menjadi-jadi saja. Karena sudah segala sisi Jokowi dikuliti, belakangan informasi kulit durian ini bergeser. Kali ini memotret sepak-terjang paspampres. Ada paspampres ganteng, paspampres berbatik rapi jail, paspampres berteriak-teriak di pesawat kepresidenan, dan lain sebagainya.

Buat saya, ini informasi kulit durian. Rakyat tidak memilih paspampres untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan. Rakyat memilih seorang presiden dan wakilnya, dan sebagai rakyat, kita ingin tahu sudah sejauh mana presiden-wakil presiden menjalankan amanat kita. Saya tidak peduli apakah paspampres itu ganteng atau jelek, kumisan atau berkepala botak, kerempeng atau gagah perwira—yang penting buat saya kehadirannya bisa menjaga keselamatan Jokowi sehingga Jokowi bisa menjalankan tugas-tugas kepresidenannya dengan baik, benar, dan amanah.

Dan yang saya tak habis pikir, mengapa media massa turut menyiarkan informasi-informasi kulit durian ini? Dengan informasi ini, alih-alih mencerdaskan pembaca, media massa malah berperan sebagai instrument pembodohan rakyat. Apa jangan-jangan independensi media massa sudah tergadai oleh intervensi pemerintah?

Oleh: Ridwan Sugianto, warganet tinggal di Jakarta

0 Response to "Strategi Kulit Durian Ala Jokowi; Upaya Pembodohan Publik?"

Posting Komentar

loading...